Monday, 8 June 2015

BERHIJRAH KEPADA YANG LEBIH BAIK





siapakah wanita sholehah yang slalu di damba oleh setiap pria, dan bagaimana ciri-cirinya ??
baiklah akan saya ambilkan dari ayat al-qur'an dan tafsir nya tentang siapa dan bagaimana ciri-ciri wanita sholehah ;-)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

"Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma'ruf lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.
"Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: "Wanita shalihah adalah yang taat," yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada." Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)


Ada kisah Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:



عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا



"Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, 'abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis." (At-Tahrim: 5)


a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta'ala dan perintah Rasul-Nya.

b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala
c. Qanitat: wanita-wanita yang taat
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
e. 'Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).
f. Shoimat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)


Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:


إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ



"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)



1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى



"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ



"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,) 

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)

Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:


إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ



"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)



1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :



أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى



"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ



"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,) 

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)
5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)

Monday, 22 December 2014




Ya Allah...
Kau tahu...
Hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu ...

Tapi aku takut.
cinta yang belum waktunya menjadi penghalang ku mencium syurga Mu..
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini. Sampai tiba waktunya.
andaikan Engkau pun mempertemukan aku dengannya kelak.
Berikan aku kekuatan melupakannya sejenak.
Bukannya kerana aku tak mencintainya...
Justeru kerana aku sangat mencintainya...
( Do'a Saiyidinna Ali pada saat jatuh cinta dengan Fatimah )
Kerana Cinta yang sebenar benar cinta, hanya inginkan si dia yang dicintai bahagia dibawah Rahmat Allah
{ Ya Allah, jika dia benar untukku, dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan milikku, damaikanlah hatiku dengan ketentuanMu }
.
Kerana dia lah PERMATA YANG DICARI

Sunday, 7 December 2014

Ciri-ciri Suami Pilihan




1. Solat fardhu cukup 5 waktu.

2. Ada kerja gaji RM800-1500 ke atas, boleh bayar rumah sewa,boleh beli beras, boleh isi minyak, boleh antar ke tempat keje. Nafkah zahir boleh bagi, bukan nafkah batin je tau.

3. Ada kenderaan: moto kapcai dah cantek. honda EX5 orait sangat la tu dengan 2 helmet. Basikal pun boleh, tapi penat kayuh kalau dari Bangsar ke KLIA. Sebaik-baiknya kereta, sebab nanti nak bawa isteri yang mengandung ke klinik setiap bulan.

4. Lulus ujian fardhu ‘ain sekolah rendah. Maknanya boleh mandi wajib dengan baik dan boleh ajar isteri mandi wajib dengan betul, apatah lagi mandi-mandi yang lain.

5. Boleh baca al-Quran dan boleh mengajar al-Quran walaupun setakat “Alif Ba’ Ta’” sampai Surah “Iqra’ Bismirabbikallazi Khalaq.”

6. Jenis lurus, baik & hati baik, tak menipu. Takdelah sampai menipu kata nak pergi Mydin tapi pergi mengorat jiran taman sebelah.

7. Dia paham kamu, kamu paham dia. Paham jiwo gitu. Serasi bersama. Berbeza tapi boleh masuk.

8. Gedik joget-joget pun depan bini dan anak-anak je. Depan orang lain sopan santun gitu.

9. Jenis tak cemburu buta sangat. Cemburu macam ni ok, “Ehemm..ramainya kawan laki kat opis.. Jangan sampai lupa abang taw..”

10. Belajar takat PMR je pun takpe, janji cara dia fikir tu matang dari yang belajar PhD.

11. Kalau dia jenis diam tak delah sampai orang kata tak bergaul dengan manusia lain. Kalau dia banyak bercakap pun tadelah sampai dia mengata-ngata orang lain.

12. Malas juga ke masjid, tapi dia pergi gak dalam sehari tu 2 kali sekurang-kurangnya Maghrib dan Isyak.

13. Walaupun tak kerap ke kuliah agama, tapi bila tengok Youtube Ustaz Azhar Idrus ngajar tu sampai terlupa nak tengok bola. Jika ada kuliah di masjid muka dialah ada di antara orang-orang kampung.

14. Boleh susah senang bersama. Kalau isteri nangis, dia tolong riba isteri dan tenangkan. Kalau isteri sakit, dia tolong jaga dari malam sampai pagi.

15. Jenis senyum sokmo.

16. Tak tengok sangat awek cuns, duk tengok bini dia je walaupn bini dia tak cuns (Tak cun tak pe, boleh tutup lampu)


#UstazAzharIdrus




Walau bagaimanapun kita kena percaya jodoh pertemuan di tangan Allah..cuma kita masih boleh berdoa agar dikurniakan suami dan anak-anak yang baik..waallahualam

Bolehkah Lelaki Dan Wanita Bersahabat



Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia dalam keadaannya yang pelbagai bangsa dan berbeza jantina. Berbeza kabilah dan berbeza puak. Berbeza bahasa dan berbeza negara. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana terhadap segala percaturan dan penetapanNya. Mudah-mudahan kita semua tergolong dalam golongan yang berfikir.
Timbul idea untuk menulis tentang persahabatan antara lelaki dan wanita, hasil cetusan dari salah seorang rakan di facebook saya.
Masih dalam ruang lingkup perbincangan yang penting, iaitu hubungan antara lelaki dan wanita. Allah dengan penuh bijak menciptakan kita ada yang lelaki dan ada yang wanita. Tidak Allah ciptakan hanya lelaki di muka bumi, begitu juga tidak hanya wanita. Dan kewujudan kedua-duanya pula disertai dengan beberapa garis panduan penting, yang hanya akan dikecapi hikmahnya oleh manusia cerdik lagi suka berfikir.
LELAKI SEBAGAI LELAKI, WANITA SEBAGAI WANITA
Kedua-dua lelaki dan wanita, hidup sebagaimana yang ditetapkan ke atas mereka. Lelaki cenderung menjadi gagah lagi kuat fizikalnya, manakala wanita cenderung menjadi lembut dan tertib. Lelaki sampai kiamat tidak akan boleh mengandung apatah lagi beranak. Wanita pula pasti akan didatangi haid dan sebagainya.
Mereka, lelaki dan wanita, hidup sebagai diri mereka. Satu sama lain tidak boleh menukar keistimewaan diri masing-masing walaupun kedua-duanya mahu.
Islam, sebagai satu cara hidup yang paling sempurna dan sesuai untuk semua manusia, tidak hanya berbicara perihal solat dan zakat. Bahkan Islam juga membicarakan tentang bab mu’amalat iaitu perhubungan sesama manusia. Termasuk juga perbincangan tentang perhubungan antara lelaki dan wanita.
Apabila lelaki dan wanita hidup sebagai diri masing-masing, maka di sana ada etika tertentu yang perlu mereka patuh dan ikut jika mahu berhubung sesama mereka. Sungguh Allah itu tidak zalim dan kejam, sehingga menyekat manusia berjantina lelaki untuk hidup serta bergaul sesama lelaki sahaja manakala wanita juga hanya bergaul sesama wanita sahaja.
Salah faham seperti ini, kerapkali menjadikan wanita sebagai mangsa, sehingga pergerakan mereka terbatas dan sudut pandang mereka menjadi sempit. Hakikatnya, mangsa yang sebenar bukanlah wanita sebaliknya Islam itu sendiri ditohmah sebagai punca kepada sindrom tersebut.

PERGAULAN DAN PERSAHABATAN
Islam tidak menyekat manusia untuk maju. Bermakna, Islam juga tidak menyekat manusia bertindak atau melakukan perkara-perkara yang boleh menjadikan mereka maju. Antara cara manusia maju adalah dengan bekerja, terlibat dengan bisnes, mendekati masyarakat dan sebagainya.
Secara dasarnya, kedua-dua lelaki dan wanita tidak disekat untuk memajukan diri mereka dalam apa sahaja aspek yang mereka ceburi. Tidak ada istilah hanya lelaki boleh maju, wanita perlu duduk di rumah. Islam itu prinsipnya bukan menyekat, sebaliknya memberi saluran dan alternatif.
Apabila manusia bergerak untuk maju, mereka akan bertemu dalam lapangan-lapangan tertentu. Seumpama kehidupan di kampus, kerja di pejabat mahupun turun memberi sumbangan pada masyarakat. Manusia yang bertemu ini, bukan hanya sesama jantina sebaliknya lelaki pasti akan bertemu wanita, dan wanita pula akan bertemu lelaki.
Islam tidak menghalang perkara tersebut.
Tidak haram lelaki bertemu wanita dalam satu-satu lapangan kerja, begitu juga wanita tidak haram bertemu lelaki. Mereka boleh berhubung, bergaul dan bekerja bersama-sama.
Cuma, Islam menyalurkan manusia dengan etika yang betul. Etika inilah yang akan menjadikan pergaulan serta perhubungan tadi selamat, bukan hanya di dunia bahkan hingga ke akhirat. Antara etika yang Islam tetapkan adalah menjaga pandangan.
Dan bab menjaga pandangan ini cukup teliti dan panjang untuk diulas. Apa yang penting, tersirat satu hikmah besar di sebalik arahan Allah supaya lelaki jangan pandang wanita dan wanita jangan pandang lelaki.
Habis tu, lelaki kena jalan pandang bawah je la?
Bukan.
Menundukkan pandangan maksudnya jangan pandang tanpa ada keperluan untuk pandang. Jangan pandang dengan nafsu. Jangan pandang dengan keinginan tertentu. Jangan pandang tempat-tempat tertentu.
Jangan dan jangan ini, untuk kebaikan manusia sendiri. Apabila suka pandang, dari mata jatuhlah ke hati. Salah. Dari mata jatuhlah ke NAFSU. Timbullah keinginan-keinginan tertentu. Akhirnya bila bertemu jalan buntu, zinalah menjadi jalan keluar paling mudah.
Itu baru satu etika.
Banyak lagi etika lain yang Islam wajibkan untuk patuh dalam pergaulan lelaki dan wanita.
Antara lain :
1. Jangan berdua-duaan
2. Jangan letakkan diri dalam keadaan yang mengundang fitnah
3. Jangan bertepuk tampar, bersentuh-sentuhan, berpegangan tangan
4. Jangan bermain soal hati
5. Jangan bergaul dengan lawan jantina, seperti bergaul sesama jantina
6. Jangan terlalu rapat sehingga semua benda boleh ‘open’
7. Jangan bersubahat dalam perkara maksiat
8. Dan banyak lagi ‘jangan’ yang lain.

JADI, BOLEHKAH BERSAHABAT LELAKI DAN WANITA?
Sebelum dijawab, saya kira ada sedikit beza antara istilah ‘sahabat’ dan ‘kawan’ pada pengertian umum. Kawan atau rakan atau kenalan, sifatnya tidak terlalu rapat. Tapi istilah ‘sahabat’ menampakkan keakraban dan mungkin juga kemesraan.
Tak mengapa, itu isu istilah. Kita tidak mahu berbicara tentang istilah, tetapi mahu memfokuskan kepada apa yang diistilahkan. Kaedah Fiqh menyebut : ” Hukum dikira kepada apa yang dinamakan, bukannya pada nama “. Maknanya, kalau arak ditukar nama menjadi soya sekalipun, hukumnya tetap haram.
Begitu juga bab bersahabat atau berkawan dengan berlainan jantina.
Mudahnya, mari kita sama-sama fahami prinsip asas yang digariskan Islam :
1. Lelaki dan wanita berbeza ciptaannya. Bersentuh tangan atau duduk dekat-dekat sesama jantina, tidak sama dengan bersentuh tangan atau duduk rapat-rapat dengan beza jantina. Ada ‘cas’ tertentu yang akan mengalir. Oleh itu, Islam sama sekali mengharamkan sentuh menyentuh, pegang memegang, tepuk menepuk, dakap mendakap dan yang sewaktu dengannya oleh manusia yang berbeza jantina – kecuali setelah berkahwin.
2. Bersahabat mesti ada tujuan. Dan tujuan yang dibenarkan dalam Islam adalah tujuan yang membawa kepada Al-Birr (kebaikan) dan At-Taqwa (ketaqwaan). Sebagaimana Firman Allah ta’ala dalam Surah Al-Maaidah :
” dan hendaklah kamu sekalian bertolong-tolong dalam perkara kebaikan dan ketaqwaan , dan janganlah kamu sekalian bertolog-tolong dalam perkara maksiat dan permusuhan “
Jadi, kalau bersahabat atas dasar taqwa dan kebaikan, caranya juga mestilah ada ciri-ciri orang bertaqwa dan orang yang membawa kebaikan. Orang bertaqwa tidak akan sembrono sahaja bergaul dengan bukan mahramnya. Dia pasti akan memelihara adab dan sahsiahnya. Begitu juga, tujuan yang sama-sama diusahakan juga tentulah yang menuju kepada Allah, seumpama dalam satu team dakwah, program untuk masyarakat dan sebagainya.
3. Batasan sesama bukan mahram. Atas nama apa sekalipun, jika hakikatnya mereka bukan mahram, maka hukumnya tetap haram jika batasan pergaulan dilanggar. Bermakna, walaupun kita ada sahabat / sahabiah berbeza jantina, tidak bermakna mereka boleh sampai ke tahap saudara kandung kita. Prinsipnya tetap sama. Justeru, selagi batas perhubungan sesama bukan mahram tidak dilanggar, maka persahabatan itu tidak salah.

ATAS NAMA KAWAN / SAHABAT?
Mereka keluar berdua, makan-makan dan melepak atas bukit. Ambil angin katanya. Bila ditanya, mereka jawab : ” kami hanya kawan biasa. Kebetulan dia ada masalah, nak cari tempat meluah, jadi saya luangkan masa. Lagipun, kami masing-masing dah berpunya “.
Sila ambil perhatian. Bercouple itu menjadi haram bukan kerana namanya couple atau semata kerana isu ‘aku cinta kau, kau cinta aku’. Couple menjadi haram dek kerana wujudnya gejala berdua-duaan, bercakap dari hati ke hati tanpa had batasan dan sebagainya. Jadi, jika berlaku elemen-elemen tersebut, tidak kiralah namanya ‘kawan’ , ‘sahabat’ ataupun ‘couple’ , hukumnya tetap adalah haram. Ia termasuk dalam kategori khalwat dan mukaddimah zina.
Ada lagi contoh situasi lain.
Si lelaki aktif dalam sesuatu pertubuhan. Ada kenalan ataupun sahabat wanita dalam pertubuhan yang sama. Mereka ramai, bekerja dan bergerak bersama. Tetapi dalam diam-diam, si lelaki suka ‘mengadu masalah dari hati ke hati’ dengan salah seorang kawan atau sahabat wanitanya. Hampir setiap malam bergayut di telefon. Bila ditegur, katanya ; saya mengadu kepada sahabat saya. Soalnya, mengapa sedemikian ramai sahabat sama jantina yang ada, sahabat lain jantina juga yang dicari?
Kalau jawabnya ; yang wanita lebih memahami, saya selesa mengadu kat dia, dan kadang-kadang dia pun mengadu kat saya – maka jatuh hukum haram, kerana wujudnya elemen mukaddimah zina dan ‘khalwat’ dalam telefon. Apatah lagi tujuannya langsung tidak ada ciri-ciri Taqwa.

BAGAIMANA YANG BOLEH?
Cuba lihat di mana anda berada.
Kalau dalam situasi anda di kampus, anda tentu punya rakan sekuliah atau sepersatuan. Mungkin terlibat dalam program, kerja bersama dan sebagainya. Maka anda boleh saja menganggap ‘muslimin itu sahabat saya’ atau ‘muslimat itu sahabiah saya’. Bahkan ia berpahala kiranya disandarkan kepada firman Allah : Sesungguhnya setiap mukmin itu bersaudara.
Tetapi, menganggap mereka sebagai sahabat atau sahabiah, tidak bermakna kita boleh ‘masuk’ ke dalam kehidupan mereka seperti kita masuk ke dalam kehidupan sesama kita. Maka, undang-undang pergaulan sangatlah perlu untuk dijaga.
Kalau dalam contoh bekerja pula. Katakan kita sebagai wanita, dan ketua kita adalah lelaki. Masing-masing boleh menganggap sesama sendiri sebagai sahabat. Tetapi jika berhubung, perbincangan hanyalah tentang hal-hal kerja sahaja. Selagi mana topiknya tidak tersasar, ia tidak menjadikan kita salah. Kita akan mula menjadi salah, apabila topik sedikit demi sedikit beralih dari hal kerja kepada hal peribadi, dari satu jam kepada berjam-jam, dari menaip kepada bergayut dan sebagainya.
Justeru, yang boleh tetap boleh, selagi mana tidak diresapi unsur-unsur yang menjadikannya sebagai tidak boleh.

KESIMPULAN
Sebagai mukmin yang membawa Islam sebagai cara hidup, lelaki mahupun wanita tidak sewajarnya membuka ruang fitnah kepada Islam hanya kerana sikap masing-masing. Kadang-kadang, ada wanita yang kononnya terlalu ‘menjaga perhubungan’ sehingga pergaulannya dengan lelaki – meskipun dalam hal-hal kerja – menjadi begitu sempit, tertutup dan menyusahkan.
Wanita jenis itu, ada isu yang panjang juga jika saya mahu ulas. Mungkin di entri lain.
Untuk kali ini, saya kira cukup untuk menjelaskan kekeliruan dan menampakkan jalan kepada kita, bolehkah lelaki dan wanita bersahabat? Anda ada jawapannya.